Kamis, 18 Desember 2008

Pilih Mana, Kekayaan, Kesuksesan, Atau Kasih Sayang?

kiriman email dr TemaN ku...

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari
perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut
yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: "Aku tidak mengenal
Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar.
Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar".
"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai
suamimu kembali", kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan
semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini,
lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah
kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama" , kata pria itu hampir
bersamaan.
"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil
menunjuk seorang pria berjanggut disebelahnya, "sedangkan yang ini
bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.
Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang.
Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh
masuk kerumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.
Suaminya pun merasa heran. "Ohho…menyenangka n sekali. Baiklah,
kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini
penuh dengan Kekayaan."
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku, kenapa
kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia
untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut
mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika
kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan
nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang. "
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak
masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang
menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa
diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi
tamu kita malam ini."
Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..
ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa
ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
"Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa
kamu ikut juga?"
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang
si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di
luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun
Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada
Kasih-sayang,
maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab,
ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang
bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan,
kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat
kami menjalani hidup ini."

kAtA-KaTa MuTiArA

Real power does not hit hard , but straight to the point.


Cinta
tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.~ Mahatma Ghandi

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping.
Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.



Minggu, 07 September 2008

renungan

kiriman email...

Dear all..

Ini ada sebuah renungan untuk para teman2 wanita hehehe..

dibaca aja.. smoga melekat di hati dan smakin memantapkan niat untuk menjadi wanita yang hebat scara jasmani dan rohani..hhohoo. . ammiiieen..


Aku Malu Menjadi Wanita
Oleh Meralda Nindyasti

" Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. "
Kata Ukhti Liana,
mentor rohaniku ketika SMA.

Ia melanjutkan ceritanya "Begini asosiasinya. . di
suatu toko buku,
banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat
buku. Tiap pengunjung
memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah
para pengunjung
tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia
akan tertarik
untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus,
sekalipun ia hanya
membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi
pengunjung yang
berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia
beli. Tentu ia
memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan
terjaga. Transaksi di
kasirpun segera terjadi. "

"iya, terus kak..?" kataku dan teman-teman, dibuat
penasaran olehnya.

"Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli
sejati, maka buku yang
ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari
buku dengan judul
sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk
ia dibaca saat itu
juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam,
ternoda oleh
coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi
buku yang tidak
tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi
mungkin berkali-kali,
dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama,
yaitu bukan pembeli
sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung
jawab. Lama
kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga
banyak yang enggan
untuk membelinya" Cerita ukhti Liana.

"Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan
jilbab, maka itu
adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih
kalau jilbab itu tak
hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan
hati.. Subhanallah. .!

Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki
yang telah Allah
siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya.
Dengan gagah berani
dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli
buku itu dengan
transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan.
Bedanya, Pengunjung yang
iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki
yang kalau zaman
sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak
kepribadian dan
kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya
tersakiti, merintih
dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah
ternodai dengan
free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual
buku-bukunya
dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko
buku itu adalah
toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika
lingkungan itu baik
maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. " kata
ukhti Liana.

"wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!.
" celetuk salah
satu temanku.

"Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang
seimbang ya, kak?
Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli
yang bertanggung
jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga
akhlaknya juga
dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan,
sholeh, pokoknya yang
baik-baik juga. Gitu ya, kak?" kata temanku.

" Benar, Seperti janji Allah SWT, "Wanita yang keji
adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah
untuk wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah
untuk laki-laki yang
baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik
(pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak
menyalahi janji. "
penjelasan ukhti Liana.

***

Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena
dihatiku. Hingga pada
suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang
bertambah, "Pff,
Ya Allah... Tahu begini, Aku malu jadi wanita. "
bisikku.

Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang
sementara. Tapi amanah
sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu
tak mudah. Butuh
iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan
pengalaman.

Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang
memilihnya, tapi
Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah
penggenggam segala ilmu.
Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan
khusus, hingga
akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita.
Aku sadar, tidak
main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena
kutahu, wanita adalah
makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa
terlahir manusia
semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir'aun.

Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita,
karena wanita
layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena
wanita bisa dibeli
dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain
sebagainya, maka
justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. "aku
malu menjadi wanita!"

Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu
gampang
diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga
dirinya. Aku malu
menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai
sumber maksiat,
memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu
menjadi wanita kalau
ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak
terjaga sanggup
memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau
ternyata tindak
tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi
pria. Aku malu menjadi
wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang
bijak bagi
anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan
suaminya.

Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai
dengan fitrahnya. Ya,
Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita
yang seperti Allah
harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum
amanah terhadap
titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini
aku sudah menjadi
wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah
ketakutan,
kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku
untuk
mempertanggungjawab kan ini semua.

Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan
Fatimah, wanita itu
makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari
kelembutan hatinya, ia
sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan
cinta. Dari
kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari
generasi-generasi
hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari
kesabaran pekertinya, ia
sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan
itu terus ada.

Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan
rendahnya tekadku. Aku
berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku
Rabb, untuk tak lagi
menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di
dunia-Mu. Hingga
kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang
kuusahakan. Ya,
wanita sholehah.."