kiriman email...
Dear all..
Ini ada sebuah renungan untuk para teman2 wanita hehehe..
dibaca aja.. smoga melekat di hati dan smakin memantapkan niat untuk menjadi wanita yang hebat scara jasmani dan rohani..hhohoo. . ammiiieen..
Aku Malu Menjadi Wanita
Oleh Meralda Nindyasti
" Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. "
Kata Ukhti Liana,
mentor rohaniku ketika SMA.
Ia melanjutkan ceritanya "Begini asosiasinya. . di
suatu toko buku,
banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat
buku. Tiap pengunjung
memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah
para pengunjung
tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia
akan tertarik
untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus,
sekalipun ia hanya
membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi
pengunjung yang
berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia
beli. Tentu ia
memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan
terjaga. Transaksi di
kasirpun segera terjadi. "
"iya, terus kak..?" kataku dan teman-teman, dibuat
penasaran olehnya.
"Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli
sejati, maka buku yang
ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari
buku dengan judul
sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk
ia dibaca saat itu
juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam,
ternoda oleh
coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi
buku yang tidak
tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi
mungkin berkali-kali,
dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama,
yaitu bukan pembeli
sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung
jawab. Lama
kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga
banyak yang enggan
untuk membelinya" Cerita ukhti Liana.
"Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan
jilbab, maka itu
adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih
kalau jilbab itu tak
hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan
hati.. Subhanallah. .!
Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki
yang telah Allah
siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya.
Dengan gagah berani
dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli
buku itu dengan
transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan.
Bedanya, Pengunjung yang
iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki
yang kalau zaman
sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak
kepribadian dan
kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya
tersakiti, merintih
dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah
ternodai dengan
free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual
buku-bukunya
dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko
buku itu adalah
toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika
lingkungan itu baik
maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. " kata
ukhti Liana.
"wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!.
" celetuk salah
satu temanku.
"Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang
seimbang ya, kak?
Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli
yang bertanggung
jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga
akhlaknya juga
dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan,
sholeh, pokoknya yang
baik-baik juga. Gitu ya, kak?" kata temanku.
" Benar, Seperti janji Allah SWT, "Wanita yang keji
adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah
untuk wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah
untuk laki-laki yang
baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik
(pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak
menyalahi janji. "
penjelasan ukhti Liana.
***
Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena
dihatiku. Hingga pada
suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang
bertambah, "Pff,
Ya Allah... Tahu begini, Aku malu jadi wanita. "
bisikku.
Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang
sementara. Tapi amanah
sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu
tak mudah. Butuh
iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan
pengalaman.
Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang
memilihnya, tapi
Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah
penggenggam segala ilmu.
Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan
khusus, hingga
akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita.
Aku sadar, tidak
main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena
kutahu, wanita adalah
makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa
terlahir manusia
semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir'aun.
Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita,
karena wanita
layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena
wanita bisa dibeli
dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain
sebagainya, maka
justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. "aku
malu menjadi wanita!"
Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu
gampang
diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga
dirinya. Aku malu
menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai
sumber maksiat,
memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu
menjadi wanita kalau
ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak
terjaga sanggup
memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau
ternyata tindak
tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi
pria. Aku malu menjadi
wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang
bijak bagi
anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan
suaminya.
Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai
dengan fitrahnya. Ya,
Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita
yang seperti Allah
harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum
amanah terhadap
titipan Allah ini. Entahlah, dalam waktu 19 tahun ini
aku sudah menjadi
wanita macam apa. Aku malu.. Bahkan malu ini berbuah
ketakutan,
kalau-kalau pada hari akhir nanti tak ada daya bagiku
untuk
mempertanggungjawab kan ini semua.
Padahal, setahuku dari Bunda Khadijah, Aisyah dan
Fatimah, wanita itu
makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari
kelembutan hatinya, ia
sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan
cinta. Dari
kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari
generasi-generasi
hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari
kesabaran pekertinya, ia
sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan
itu terus ada.
Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan
rendahnya tekadku. Aku
berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku
Rabb, untuk tak lagi
menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di
dunia-Mu. Hingga
kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang
kuusahakan. Ya,
wanita sholehah.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar